Jumat, 31 Mei 2019
Amalan Agar Terhindar dari Siksa Api Neraka
Ide ini tercetus kala melihat salah satu postingan teman facebook yang memuat foto salah satu ulama Kalimantan Selatan, yaitu Tuan Guru K.H Akhmad Bakeri yang juga dikenal sebagai guru gambut. Di dalam postingan tersebut ada kata-kata yang bikin saya mangut-mangut membenarkan. Kata-kata itu berbunyi seperti ini "Orang lain lebih senang mengerjakan amalan-amalan agar masuk surga, tetapi saya lebih senang mengerjakan amalan-amalan agar tidak masuk neraka. Orang yang tidak masuk neraka sudah pasti bakal masuk surga, tetapi orang yang masuk surga bisa jadi masuk neraka terlebih dahulu baru masuk surga."
Subhanallah, kata-kata beliau bikin hati saya bergetar. Tidak dapat dipungkiri dalam setiap doa kita selalu meminta untuk dimasukkan ke dalam surga-Nya, namun tidak kita disadari bahwa Allah banyak memiliki cara agar kita bisa menghuni surga-Nya kelak. Entah itu mampir sebentar ke dalam neraka baru ke surga, ataupula waktu dibangkitkan di padang mahsyar langsung melesat bak panah ke dalam surga, dan bisa juga menunggu antrian perhitungan terlebih dahulu baru memasuki surga-Nya. Allah punya kuasa, dan Dia bisa saja menghendaki hambanya masuk surga dengan cara apapun.
Bagaimana seandainya waktu kit berdoa meminta dimasukkan ke dalam surga ternyata dikasih Allah mampir ke neraka dulu baru ke surga? Toh, pada akhirnya sama-sama masuk surga, kan? Untuk itu saat berdoa juga perlu diperjelas, misal "minta dimasukkan ke surga tanpa hisab" otomatis apabila dikabulkan Allah, maka kita tidak perlu menunggu perhitungan amal yang katanya memakan waktu ratusan tahun untuk memasuki surga. Enggak kebayang, kan, harus menunggu sampai ratusan tahun.
Nah terkait perkataan Tuan Guru KH. Ahmad Bakeri tentang mengerjakan amalan agar terhindar dari masuk neraka, inilah amalan yang penulis dapat dari berbagai sumber yang kiranya dapat kita kerjakan agar terhindar dari masuk neraka sambil tetap berharap agar dimasukkan ke dalam surga-Nya yang paling tinggi. Apa aja sih amalannya? Yuk cek di bawah ini.
Melakukan sholat sunah 4 rakaat sebelum Dzuhur dan 4 rakaat setelahnya
Umm Habibah istri Nabi (Sallalahu ‘alayhi wa salam) : Dia mendengar Rasulullah (Sallahu’ alayhi wa salam) mengatakan: “Siapa pun yang memelihara empat rakaat sebelum dzuhur dan empat setelahnya, Allah membuat dia dilarang untuk Api.” [Sunan At-Tirmidzi 428, kelas: Sahih (otentik)]
Melakukan Puasa Sehari
Nabi (Sallalahu ‘alayhi wa salam) mengatakan: “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah akan memindahkan wajahnya menjauh dari neraka dengan jarak tujuh puluh tahun.” [Sahih Bukhari, Muslim]
Berdoa agar dihindarkan dari siksa neraka dan agar dimasukkan ke dalam surga
Nabi (Sallalahu ‘alaihi wa salam) berkata: “Siapa pun yang meminta kepada Allah surga tiga kali, surga akan berkata: Ya Allah, mengakui dia ke dalam surga. mencari perlindungan dari api neraka tiga kali, Api neraka akan berkata: Ya Allah, selamatkan dia dari api neraka. ” [Sunan At-Tirmidzi 2572].
Dalam sebuah hadist yang berasal dari Al Harist bin Muslim Attamimi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda kepadanya,“Apabila kamu telah selesai shalat subuh maka ucapkanlah sebelum berbicara: “Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka (Allahumma ajirni minannar) sebanyak 7 kali; karena sesungguhnya jika kamu meninggal pada harimu itu niscaya Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka. Dan apabila kamu selesai shalat maghrib maka ucapkanlah sebelum berbicara: “Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka (Allahumma ajirni minannar) sebanyak 7 kali; karena sesungguhnya jika kamu meninggal pada malammu itu niscaya Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka.”
Berperang dalam jihad
Abu Huraira melaporkan Rasululah bersabda : “Siapa pun yang percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, menetapkan shalat, dan puasa bulan Ramadhan akan memiliki hak atas Allah bahwa ia akan masuk ke surga apakah ia berjuang di jalan Allah atau tetap tinggal di tanah tempat ia dilahirkan.” [Sa hih Bukhari 2790]
Memiliki perilaku yang baik
Rasulullah bersabda: “Tidakkah aku tidak memberitahumu untuk siapa api neraka dilarang? Setiap orang berperilaku baik, sopan, dan ringan, maka akan selamat dari api neraka” [Sunan At-Tirmidzi 2488, Grade: Hasan]
Bersedekah dan Berkata Baik
Menurut Ady Ibn Hatim (semoga Allah senang dengan dia), Rasulullah bersabda: “Jagalah dirimu dari neraka bahkan dengan setengah dari kurma dalam amal. Jika dia tidak dapat menemukannya, maka dengan kata yang baik.” [Sahih Bukhari 1417 dan Sahih Muslim 1016]
Menangis karena takut kepada Allah
Dikisahkan bahwa Abu Hurairah (ra dengan dia) berkata: Utusan Allah, Rasulullah bersabda : “Orang yang menangis karena takut kepada Allah tidak akan masuk Neraka sampai susu kembali ke kambing, dan debu yang dihasilkan (saat berperang) demi Allah dan asap Neraka tidak akan pernah hidup berdampingan.” [Jami ‘at-Tirmidzi 1633]
Mentauhidkan Allah Subhanahu wa ta’ala dan menjauhkan diri dari kesyirikan
Dari Muadz bin Jabal, beliau berkata, “Suatu saat saya dibonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas keledai. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Wahai Muadz.’ Saya menjawab, ‘Aku selalu menyambutmu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan hal itu tiga kali (dan saya jawab tiga kali juga). Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Tahukah engkau apa hak Allah Subhanahu wata’ala atas para hamba?’ Saya menjawab, ‘Tidak.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Hak Allah Subhanahu wata’ala atas para hamba adalah mereka mengibadahi-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’ Kemudian beliau berjalan beberapa saat, dan berkata, ‘Wahai Mu’adz.’ Dijawab, ‘Aku selalu menyambutmu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Tahukah kamu, apa hak mereka atas Allah Subhanahu wata’ala apabila mereka melakukannya? Allah Subhanahu wata’ala tidak akan mengazab mereka’.” (HR. al-Bukhari no. 6267).
Memperbanyak istighfar
“Katakanlah, ‘Wahai para hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allâh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’ ” (QS. Az-Zumar:53)
Bersabar dan mendidik dengan baik apabila dikaruniai anak perempuan
“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, kemudian dia bersabar atas mereka, memberikan makan, minum, dan pakaian untuk mereka dari usahanya, sungguh mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Ibnu Majah dari hadits ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
Menjaga shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan, dan taat pada suami (bagi perempuan)
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Targhib no.1931).
Berdzikir
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa di pagi hari atau sore hari mengucapkan, “Allahumma inni ashbantu Usyhiduka wa usyhidu himlata ‘arsyika wa malaikataka wajami’a kholkika annaka antallahu laa ilaaha illa anta wahdaka la syarikalak wa anna muhammadan abduka wa rasuuluka (Artinya: Ya Allah sesungguhnya aku memulai pagi hari dengan bersaksi kepadamu, bersaksi kepada yang memikul Arsy-Mu, kepada malaikat-malaikat-Mu dan semua mahluk-Mu bahwa Engkau tiada Tuhan selain-Mu, hanya engkau satu-satunya, tiada sekutu bagi-Mu), niscaya Allah akan membebaskan seperempatnya dari neraka. Barangsiapa mengucapkannya dua kali maka Allah akan membebaskan setengahnya dari neraka. Barangsiapa yang mengucapkannya tiga kali maka Allah akan bebaskan tigaperempatnya dari neraka. Dan barangsiapa mengucapkannya empat kali maka Allah akan membebaskannya dari neraka." (HR Abu Dawud).
Waallahu a'lam
Sumber Referensi :
https://googleweblight.com/i?u=https://nulis.babe.news/baca/0ef0dd/baca-zikir-ini-4-kali-niscaya-allah-swt-bebaskan-dari-api-neraka/&grqid=cjb_p6BB&s=1&hl=id-ID&geid=1053
https://googleweblight.com/i?u=https://muslimah.or.id/9965-agar-wanita-terhindar-dari-api-neraka.html&hl=id-ID
http://googleweblight.com/i?u=http://asysyariah.com/amalan-amalan-perisai-api-neraka/&hl=id-ID
https://googleweblight.com/i?u=http://www.kabarmakkah.com/2016/04/baca-doa-pendek-ini-rasul-janjikan-umatnya-terlindung-dari-siksa-api-neraka.html&grqid=cjb_p6BB&s=1&hl=id-ID&geid=1053
#Day(27)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Kamis, 30 Mei 2019
Maraknya CURANMOR Menjelang Lebaran
Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan ramadhan dan menyambut hari lebaran. Lebaran yang penuh suka cita dan kegembiraan membawa kita kembali fitrah. Alangkah indahnya kebersamaan di hari lebaran, namun terkadang banyak hal yang mengotori hari lebaran yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan yang penuh keampunan dan kemaafan menjadi hari yang menyedihkan dan penuh duka cita.
Salah satu yang marak terjadi menjelang hari lebaran adalah kasus-kasus kejahatan yang mulai bermunculan seperti kasus penipuan, pencurian, dan juga perampokan. Namun yang kerap kali kita temui di masyarakat adalah kasus pencurian motor atau yang disingkat dengan curanmor. Curanmor tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa saja, bahkan anak remaja pun mampu melakukan kejahatan seperti ini karena mudahnya bagi pelaku untuk menemukan objek curiannya.
Kasus pencurian motor ini banyak dilatar belakangi oleh faktor-faktor tertentu, diantara faktor yang melatar belakanginya yaitu :
Faktor Intelegencia
Intelegencia adalah kecerdasan seseorang. Tingkat kecerdasan yang rendah cenderung berfikiran pendek dan tidak memikirkan apa akibat yang terjadi atas perbuatannya. Hal ini mendorong seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan rendah lebih mudah melakukan kejahatan ketimbang orang yang memiliki kecerdasan yang lebih tinggi karena mereka memiliki pemikiran yang lebih jauh.
Faktor Usia
Faktor usia adalah faktor yang paling penting dalam sebuah penyebab terjadinya kejahatan. Hal ini sejalan dengan faktor psikologis seseorang. Remaja yang memiliki darah muda menggebu-gebu lebih mudah terperangaruh untuk melakukan tindak kejahatan daripada orang yang lebih dewasa.
Faktor Kelamin
Adanya perbedaan jenis kelamin, mengkibatkan pula terjadinya perbedaan tidak hanya dalam segi kuantitasnya kejahatan akan tetapi juga segi kualitas kejahatannya. Biasanya laki-laki lebih cenderung melakukan tindak kejahatan dari yang kecil sampai yang paling sulit dibanding dengan perempuan yang memiliki rasa takut yang lebih tinggi.
Faktor Ekonomi
Salah satu teori dan yang paling banyak dianut orang adalah bahwa kejahatan timbul karena kemiskinan. Akibat faktor eknomi yang sulit sering mendorong seseorang untuk melakukan tindak kejahatan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan ini merupakan faktor yang paling dasar mengapa seseorang melakukan tindak kejahatan.
Faktor Pendidikan
Pendidikan yang rendah merupakan faktor yang juga kerap kali melatar belakangi suatu tindak kejahatan walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang yang memiliki pendidikan tinggi untuk melakukan kejahatan. Kejahatan seseorang dengan pendidikan tinggi kadang jauh lebih cantik dan terstruktur dibandingkan orang-orang berpendidikan rendah yang melakukan tindak kejahatan.
Upaya pencegahan tindak pencurian moror dapat kita mulai dari diri sendiri dengan mengamankan kendaraan dengan fungsi alat pengamannya dan meletakkannya di tempat yang aman dari pencurian. Kalau bukan kita yang mencegah, siapa lagi?
#Day(26)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Rabu, 29 Mei 2019
Pengalaman Ramadhan "Mendadak Rezeki"
Matahari nampak bersembunyi di balik awan kelabu. Rintik hujan mulai membasahi bumi. Aku dan keponakanku sedikit berjalan cepat menuju sebuah warung kecil yang berjejer di samping masjid. Sesampainya di warung, kami mengambil tempat duduk di depan bibi penjual yang dipisah oleh sebuah meja berisi beraneka macam makanan ringan.
“Bi, tes es 2,” pesanku kepada bibi penjual yang kira-kira berusia lima puluh tahun lebih. Tubuhnya sedikit lebih gemuk di banding bibi penjual warung sebelah.
“Bentar ya, Nak,” balas si bibi kepadaku lalu segera mengambil dua buah gelas besar untuk membuat teh es.
“Kamu mau makan apa, bakso atau mi ayam?” Aku bertanya kepada keponakanku yang asik bermain dengan ponselnya.
“Mi ayam kayaknya enak,” balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
Aku beranjak dari tempat duduk dan mendekat ke warung penjual mi ayam yang ada di sebelah kiri. Warung itu tampak sibuk karena ada beberapa pembeli yang memesan. Memang di cuaca yang lumayan dingin membuat perut lebih cepat merasa lapar dibanding cuaca yang panas.
“Pak, mi ayam dua porsi,” kataku tepat di samping penjual mi ayam yang sedang memasukkan sawi ke dalam mangkuk. “Antar ke sebelah, ya,” lanjutku.
“Ok, neng,” balas si penjual mengacungkan jempolnya, dan aku pun kembali duduk di warung teh es, di samping keponakanku.
Tak berapa lama pesanan kami datang. Dua gelas teh es dan dua mangkuk mi ayam tersaji di atas meja. Kami pun menikmatinya sambil sesekali ngobrol tentang apa saja. Saat sedang asik mengunyah mi ayam, seorang ibu muda datang dengan menggendong anaknya yang masih berumur sekitar 3 tahun.
“Bi, saya beli susu dua botol, air mineral satu botol dan cemilan ini,” pinta ibu muda itu kepada bibi penjual sambil menunjuk beberapa camilan yang ingin dibelinya.
Dengan sigap si bibi penjual meletakkan 2 botol susu dan 1 botol air mineral di atas meja, di dekatku. Si ibu muda nampak kewalahan memasukkan camilan yang dibelinya ke dalam kantung plastik karena sedang menggendong anaknya. Entah kenapa tiba-tiba saja tanganku bergerak mengambil camilan dan susu botol yang berserakan di atas meja ke dalam kantung plastik hitam yang diberikan bibi penjual kepada ibu muda tersebut. Ibu muda tersebut menoleh kepadaku dan menatap heran, mungkin dalam hati dia mengira aku sedang mengambil belanjaannya. Ibu muda itu hanya diam memperhatikan sampai aku selesai memasukkan semuanya ke dalam kantung plastik. Setelah rampung, kantung plastik tersebut kuserahkan kepadanya.
Ibu muda itu menerima kantung yang kuserahkan dan tersenyum. “Terima kasih ya, Dek,” ucapnya sungguh-sungguh. Kemudian ia menyerahkan uang lima puluh ribu kepada si penjual.
“Totalnya tiga puluh lima ribu,” kata si penjual menerima uang itu.
“Kembaliannya untuk bayar makanan mereka saja.” Ibu muda itu menoleh kepadaku.
“Enggak usah, Bu,” tolakku halus. “Kami sudah membayarnya,” lanjutku.
“Enggak apa-apa, dek. Terima saja,” ujar Ibu muda itu kemudian melangkah meninggalkan warung.
Aku hanya bengong menatap kepergiannya. Sungguh aku melakukannya memang karena aku ingin, tidak ada maksud apa-apa. Tidak diberi imbalan pun tak mengapa. Akan tetapi ibu muda itu telah pergi menjauh.
“Kembaliannya buat bibi saja.” Aku berucap.
“Jangan,” tolak bibi penjual. “Ini rezeki kalian, tidak boleh ditolak,” katanya lagi. Bibi penjual pun memberikan uang kembalian tersebut kepadaku.
“Terima kasih, Bi,” ucapku kemudian beranjak dari warung setelah kami selesai makan. Rezeki memang tidak pernah bisa ditebak. Dia datang tidak disangka dan pergi juga bisa tidak terduga, dan hari ini aku mendadak dapat rezeki dari orang yang tak kukenal sama sekali.
#Day(25)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Selasa, 28 Mei 2019
Salah Siapa? Mertua or Menantu
Sewaktu membaca postingan mbak Dira Arin alias mama Indri tentang orang ketiga dalam rumah tangga, tiba-tiba saya teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu. Hari itu, tepatnya hari jum'at siang, seorang wanita mengenakan daster lusuh dengan menggendong seorang anak perempuan datang mendekat. Wanita itu nampak kelelahan dengan bulir peluh yang membanjiri wajahnya.
Ia mendekat ke depan toko yang ada di samping rumah, lalu berkata, "Mbak, saya numpang duduk, ya." Wanita itu duduk di bangku yang tersedia di teras rumah. Masih tampak di wajahnya rona merah karena sengatan matahari yang begitu terik.
Kami yang penasaran, pun, mencoba bertanya, "Dari mana, mbak? Kayaknya kelelahan banget," ujar keponakanku mewakili kami bertanya.
"Saya dari Banjarbaru, mbak. Mau ke Tunggul Irang," sebut wanita itu pada salah satu nama kampung yang ada di kota Martapura sambil menyeka peluh dan mulai mengipasi anaknya dengan tangan.
"Owh..." Kami membeo serempak.
"Saya berangkat dari Banjarbaru tadi jam 8 pagi, Mbak. Cuma jalan kaki," lanjut wanita itu.
Saya tercengang. "Jalan kaki dari kota Banjarbaru ke kota Martapura? Astaga! Nekat banget wanita ini," pikir saya. Meskipun Jarak tempuh dari kota Banjabaru ke kota Martapura tidak terlalu jauh hanya sekitar 9.9 km atau kurang lebih 15 menit menggunakan kendaraan roda dua, tetap saja terasa jauh apabila berjalan kaki, belum lagi di siang bolong seperti ini, di saat para lelaki tengah melaksanakan sholat jumat.
"Kenapa jalan kaki?" tanya seorang pelanggan yang kebetulan lagi ada di toko.
"Saya barusan kabur dari rumah, Bu. Saya enggak punya uang buat naik angkot."
"Ada masalah apa sampai kabur dari rumah?" Si ibu pelanggan kembali bertanya.
"Saya berantem sama mertua. Kemudian saya diusir dari rumah. Pergi dari rumah saya enggak bawa apa-apa," tuturnya sedih. "Jadi sekarang saya mau ke tempat kakak saya."
"Suami kamu tau?"
Wanita itu menggeleng. "Dia lagi kerja, Bu. Enggak tau apa-apa."
"Minta jemput aja mbak sama saudaranya. Kasian anaknya kepanasan."
"Saya enggak punya handphone, Bu."
"Berapa nomornya, Mbak? Biar saya coba bantu hubungi," tawar keponakan saya.
"Saya enggak hapal, mbak."
Kami terdiam. Sungguh memprihatinkan sekali cerita wanita itu, namun kami tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa saja, sih, menawarkan bantuan untuk mengantarkan wanita itu ke rumah saudaranya, namun apa benar yang dia katakan. Bagaimana kalau wanita itu cuma berbohong dan ketika diberikan bantuan dia malah menipu atau tidak merampok sewaktu mengantarnya di jalan. Bukannya kami berprasangka buruk, zaman seperti sekarang ini sangat sulit untuk mempercayai orang, apalagi orang yang tidak dikenal. Bukankah kasus perampokan, begal dan penipuan sudah sering terjadi? Lebih baik mencegah daripada menyesal di belakang, bukan?
Akhirnya wanita itu kembali berjalan setelah kami beri minuman dari toko dan selembar uang untuk ongkos perjalanan. Sungguh kasihan wanita itu. Entah siapa yang salah dalam pertengkaran yang tengah terjadi. Dari ceritanya, kami tidak bisa menyimpulkan pokok permasalahan yang sebenarnya. Apakah dia yang memulai atau mertuanya? Tiada yang tau kecuali mereka.
#Day(24)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Senin, 27 Mei 2019
Hukum Menggunakan GO PAY dan OVO dalam Bertransaksi
Hari ini lagi-lagi saya menggunakan ojek online sebagai sarana bepergian. Meski terkadang menggunakan angkot, saya kerap kali juga mengunakan ojek online, saking seringnya menggunakan jasa tersebut bahkan ada beberapa pengemudi yang mengingat saya.
Ojol alias ojek online yang saya gunakan biasanya dari Grab dan Go Jek. Keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Yang mana keduanya saling melengkapi untuk kebutuhan hidup dan transportasi bagi konsumen atau pelanggan kedua aplikasi tersebut.
Pembayaran jasa Grab dan Go Jek menggunakan 2 pilihan. Yang pertama menggunakan OVO untuk Grab dan GO PAY untuk Go Jek serta dengan uang tunai. Awal menggunakan Go Jek dan Grab saya selalu melakukan pembayaran tunai karena memudahkan proses akadnya baik itu untuk transpotrasi maupun pemesanan makanan. Namun seiringnya waktu para pengemudi mengusulkan saya untuk menggunakan OVO atau GO PAY dalam transaksi pembayaran. Kata mereka sih, penggunaan OVO atau GO PAY memudahkan konsumen dan juga jauh lebih murah dari pada melakukan transaksi menggunakan uang tunai.
Usul tersebut tak lantas membuat saya berpaling dari pembayaran uang tunai karena saya belum tau bagaimana hukum penggunaan OVO atau GO PAY tersebut apakah halal dalam hukum islam atau tidak dan saya masih ragu akan hal itu. Dan tadi, iseng-iseng saya tanyai salah satu pengemudi ojol yang mengangantarkan saya mengenai penggunaan GO PAY. Mereka bilang, saya hanya perlu membayar uangnya terlebih dahulu baik itu melalui pengemudi ataupun melalui bank serta ALFA MART.
Saya pikir awalnya uang tersebut akan ditukarkan menjadi koin kemudian koin tersebutlah yang menjadi alat transaksi. Ternyata pemikiran saya salah. Saya cukup membayar uang terlebih dahulu kemudian dipotong sesuai pembayaran transportasi ataupun pemesanan makanan. Istilah lainnya seperti menabung dibank kemudian dipotong uangnya apabila melakukan transfer ke rekening lain untuk sebuah pembayaran.
Setelah mendengarkan penjelasan si pengemudi saya pun merasa lega sebab hal tersebut diperbolehkan dalam islam untuk sebuah transaksi. Selama pembayaran masih berupa uang, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. Akad pun masih bisa dilakukan ketika pesanan sampai di tempat pelanggan ataupun di tempat tujuan pelanggan apabila menggunakan jasa transportasi. Mulai sekarang saya pun tidak ragu untuk menggunakan OVO ataupun GO PAY.
Waallahu a'lam
#Day(23)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah
Langganan:
Postingan (Atom)





