Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Siapa

Siapa yang bisa diajak bicara
Tembok kah? atau bantal guling?
Tapi, mengapa mereka hanya diam?
Walau berbuih-buih mulut ini
Walau beribu-ribu kata dan caci maki
Mereka tetap diam!

Lalu, siapa?
Apakah pohon-pohon yang bergoyang
Atau angin malam yang menusuk kulit
Tapi, mereka juga tetap diam!

Lantas siapa?
Dan dimana harus kucari?
Sosok yang mampu dengarkan letup amarahku
Yang mampu dinginkan bara hatiku

Apakah hanya Tuhan yang Mampu?
Lantas, mengapa Tuhan juga diam?
Kala riuh suara dalam isakku
Kala aksara wakili rasaku

Tetap tak ada balas-Nya
Tetap tak ada tanda-tanda-Nya
Apakah ucapku tak terdengar?
Ataukah pula ucapku tak pantas didengar?

Lalu....
Kepada siapa lagi kuharus mengadu?

Rabu, 03 Februari 2016

Kami juga Manusia

Martapura, 03 Februari 2016

Meski hanya ada setitik susu di belanga
Walaupun hanya ada sebutir padi di lesung
Lantas kau jadikan kami sapi perah?
Dengan seikat rumput, kau ambil seluruh air susu

Kau kira kami ini robot yang tak perlu istirahat
Kau kira kami ini pengangguran yang tak punya pekerjaan lain di rumah
Kau kira kami ini tak punya keluarga hingga tak ada yang peduli
Dan kau kira kami ini motor yang bisa kau setir ke sana kemari

Mungkin kau tak pernah mengira
Kami hanya manusia biasa yang sama seperti engkau
Punya rasa lelah juga dahaga
Bukan hanya sekedar mesin menghasil pundi-pundi uang

Dimana nuranimu, saat kami adalah saudaramu

Mana hak yang kau berikan?
Saat tanggung jawab tlah kami penuhi
Jangan kau pandang sebelah mata
karna kami juga manusia...



Kasih Tak Sampai

24 jam waktu ini tersita
duduk terngungu dalam lamunan
berharap semua ilusi semata
namun ini nyata adanya

kau dan dia duduk bahagia
duduk bersanding bak putri raja
sapa ramah kau sebar ke semua
ikut rasakan bahagia yang kau punya

dalam bahagiamu, aku tersiksa
dalam bahagiamu, aku merana
lihat kau dan dia hidup bersama
tinggalkan aku dalam luka lara

kasih ini tak sampai
tak sampai buatmu di dekatku
tak mampu pertahankan cintamu
yang dulu luluhkan hatiku

Rabu, 24 Desember 2014

Kumpulan Puisi

Tanpamu
Rapuhnya aku tanpa dirimu
Rapuhnya aku tanpa hadirmu
Di sisiku lagi....

Aku tak pernah membayangkan
Dalam sekejap kau menghilang
hilang dari hidup dan pandangan
tak tahukah kau aku tanpamu
tak bisa tanpamu

Oh Ibu
Oh Ibu
Kaulah cahaya hidupku
Tanpa kamu
Tanpa kamu
Tak berarti diriku

Oh Ibu
Oh Ibu
Kaulah semangat hidupku
Lentera jiwaku
Tanpa kamu
Tanpa kamu
Tak berarti diriku

Rapuhnya aku tanpa hadirmu
Gelap hatiku terangi jalanku
Risau hatiku tenangkan hatiku
Arti dirimu tak terlukis kataku
Oh Ibu kaulah penyemangat jiwaku

by Rosidah Albana

Aku terlelap
Tatkala mentari terbit di ufuk timur
Harusnya aku sudah berdiri tegak
Bak gunung menjulang tinggi
Tetapi, bahkan saat ayam jantan berkokokpun
Aku masih terlelap
Terlelap dalam keheningan pagi
Tanpa suara dan asa
Tanpa bisa dan cita-cita

Haruskah aku begini?
Lelap dalam gelap
Tiada cahaya dan sinar gemerlap
Tiada warna apalagi pelangi

Hanya segumpal titik hitam dalam benak
Takkan terelak walau sesaat
Aku terlelap
Dalam diam
Dalam jurang
Kehancuran

by Rosidah Albana

Kapan

Ketika tangisan-tangisan kecil menggema dunia
Meneriakkan rintihan-rintihan kelaparan di setiap harinya
Tidakkah kau melihat?
Mendengar, bahkan iba sekalipun,
pada nasib anak-anakmu, yang akan meneruskan perjuangan
Bangsa dan negaranya kelak..
Getir-getir kepedihan merajai hatiku
Meminta dan meneriakkan akan janji-janji manismu
Kapan…
Kapan Bangsa ini akan terhindar dari kelaparan
Kehausan dan juga kemiskinan
Kapankah tercipta bangsa yang adil makmur dan sentosa
Merdeka di bawah panji-panji pusaka
Kapan,, kapan,,, dan kapan,,,
Kau tepati semua janji-janjimu
Janji seorang pemimpin bangsa panutan semua anak-anaknya
Hanya selirih doa terpanjat dari bibirku
Untukmu wahai negeriku tercinta
by Rosidah Albana



“KEMBALI”

Duniaku kosong saat jauh dariMu
Hampa terasa di setiap detik-detik denyut nadiku
Kesunyian kini menerkam jiwa jiwa yang sepi
bagaikan rantai kapal membelenggu raga
aku terpuruk, berlumuran noda dan dosa

Aku ingin kembali
Kembali dalam pangkuanMu
Dekapan hangat kasih sayangMu
Oh,,, Tuhan
Ijinkan aku berada dalam kasihMu
terlarut dalam belaian hangat cintaMu.
Di setiap pertengahan malam-malamku.

Oh,,, Tuhan
Aku ingin kembali
Kembali merajut cinta yang telah ku tinggal pergi
Bagaikan bunga yang kering di tanah tandus
Aku hampa tanpa KasihMu

Tuhan….
Aku ingin kembali menyebut namaMu dalam setiap hembusan napasku
Jangan biarkan aku terlena dengan cinta selain cintaMu

Tuntunlah aku menuju kasihMu, agar damai slalu bersamaMu.

by Rosidah Albana

Semangat Juang
Kau usung pedang di tangan kananmu
Kau genggam tombak bambu di tangan kirimu
Kau berlari
Kau berteriak kencang menggema dunia
Bagai singa mengaum tanpa henti
Tak sedikitpun rasa lelah kau sadari
Kau terus berlari
Maju! Maju! Dan terus maju
Tak takut pasukan lawan menghadang
Bagai tembok besar bertahtakan baja
Tak sedikitpun rasa gentar
Demi membela negeri tercinta
by Rosidah Albana