Selasa, 14 Mei 2019

Beberapa Kebiasaan di Bulan Ramadhan



Tidak terasa sudah memasuki 10 hari bulan ramadhan. Tinggal menghitung hari sebelum berpisah dengan ramadhan. Kebiasaan dan budaya selama bulan ramadhan akan kita tinggalkan seperti sholat tarawih berjamaah, bangunin orang sahur, ngabuburit, tadarus Alquran dan banyak lagi kebiasaan-kebiasaan bulan ramadhan yang tidak dapat ditemui di bulan-bulan lainnya.

Masih teringat dengan jelas tiap bubar sholat tarawih, saya dan kawan-kawan bergegas menghadang imam tarawih untuk meminta tanda tangan. Padahal sebagian dari kami sholat tarawihnya enggak full alis bolong-bolong. Kalau capek, istirahat sebentar atau makan camilan-camilan yang di beli di warung di dekat musholla. Sungguh momen manis yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang.

Kebiasaan-kebiasaan seperti ini kadang bikin kangen dan tidak bisa terulang lagi. Belum lagi tiap 17 ramadhan. Pada malam itu diadakan malam tanglong untuk memperingati turunnya Alquran. Biasanya acara malam tanglong berisi pawai arak-arakan dengan menggunakan kostum yang bermacam-macam dilanjutkan dengan acara bangunin sahur. Sungguh menggembirakan bila dapat menyaksikannya. Nah, kira-kira kebiasaan seperti apa yang ada di tempat kalian?

#Day(10)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Senin, 13 Mei 2019

LANGKAH MEMBUAT RESENSI BUKU




Langkah/Tahap Cara Membuat Resensi Buku dan Unsur/Kerangka Resensi Buku.

Kali ini penulis akan mencoba membahas tentang langkah meresensi buku. Jadi buat yang belum mengetahui apa saja itu langkah-langkah bagaimana cara meresensi buku

Jenis Buku
Jenis/bentuk buku itu apakah roman, novel, biografi, atau yang lain. Selain itu seorang resentator menyebutkan juga buku termasuk buku fiksi atau nonfiksi.

Keaslian Ide
Buku itu apakah benar-benar merupakan karya asli dari pengarangnya atau merupakan jiplakan dari buku lain yang pernah terbit.

Bentuk
Bagaimana mengenai bentuk atau format dari buku itu. Apakah bentuknya, kertas, ilustrasi cover, jenis huruf yang dipakai, dan sebagainya.

Isi dan Bahasa
Dilihat dari segi isi, resentator perlu memperhatikan unsur-unsur intrinsiknya, yaitu tentang tema, alur, perwatakan, sudut pandang dan sebagainya.
Bahasa dalam buku itu dapat ditinjau dari segi struktur kalimat, gaya bahasa/style, ungkapan dan lain-lain. Apakah bahasa yang digunakan memakai bahasa sehari-hari yang segar tidak menjemukan, mudah dimengerti oleh pembaca, dan sebagainya. Mudah dipahami atau sukar diterima pembaca. Pengujian materi mendapat perhatian juga dari resentator.

Simpulan
Akhirnya seorang penulis resensi harus dapat menyimpulkan, apakah buku itu baik dan perlu dibaca atau tidak.

Menulis data buku yang dibaca,

Menulis ikhtisar isi buku,

Mendaftar butir-butir yang merupakan kelebihan dan kekurangan buku,

Menuliskan pendapat pribadi sebagai tanggapan atau isi buku, dan

Memadukan ikhtisar dan tanggapan pribadi ke dalam tulisan yang utuh.
Sebuah resensi harus memuat hal-hal sebagai berikut :

Data buku atau identitas buku

Judul buku
Jika buku yang akan kamu resensi adalah buku terjemahan, akanlebih baik jika kamu menuliskan judul asli buku tersebut.

Penulis atau pengarang
Jika buku yang diresensi adalah buku terjemahan, kamu harus menyebutkan penulis buku asli dan penerjemah.

Nama penerbit

Cetakan dan tahun terbit

Tebal buku dan jumlah halaman

Judul Resensi
Judul resensi boleh sama dengan judul buku, tetapi tetap dalam konteks buku itu.

Ikhtisar Isi Buku
Dalam meresensi buku, seorang peresensi harus menulis buku yang hendak diresensi. Ikhtisar adalah bentuk singkat dari suatu karangan atau rangkuman. Ikhtisar merupakan bentuk singkat karangan yang tidak mempertahankan urutan karangan atau buku asli, sedangkan ringkasan harus sesuai dengan urutan karangan atau buku aslinya. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat ikhtisar isi buku adalah sebagai berikut.

Membaca naskah/buku asli
Penulis ikhtisar harus membaca buku asli secara keseluruhan untuk
mengetahui gambaran umum, maksud, dan sudut pandang pengarang.
Mencatat gagasan pokok dan isi pokok setiap bab
Membuat reproduksi atau menulis kembali gagasan yang dianggap
penting ke dalam karangan singkat yang mempunyai satu kesatuan yang padu.

Kelebihan dan Kekurangan Buku
Penulis resensi harus memberikan penilaian mengenai kelebihan dan kelemahan buku yang disertai dengan ulasan secara objektif.

Kesimpulan
Penulis resensi harus mengemukakan apa yang diperolehnya dari buku yang diresensi dan imbauan kepada pembaca. Jangan lupa cantumkan nama kamu selaku peresensi.


#Day(9)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Minggu, 12 Mei 2019

Pertanyaan Tanpa Akhir




Zaman serba rempong gini memang sering bikin hati panas kalau didengerin. Banyak omongan-omongan yang unfaedah yang mengusik ketentraman hati. Selalu saja ada yang dikomentari ini lah itu lah seperti petasan yang meletup tanpa jeda. Seperti gambar di atas, bisa kita lihat dilihat, apapun yang dilakukan selalu salah di mata orang lain. Ibarat kata maju kena mundur kena, selalu serba salah. Mendengarkan komentar orang lain bakal bikin kuping panas, solusi terbaiknya adalah berpura-pura tuli dengan komentar unfaedah mereka.

Saat ada yang bilang, "Kok, kamu jelek?" jawab saja dengan santai, "Untung aku jelek, jadi enggak banyak cowok yang mendekatiku. Coba bayangkan kalau wajahku cantik, tentu banyak mata cowok nakal yang memandangiku. Selain itu mereka akan membuatku repot karena harus menolak satu persatu cowok yang menyatakan cinta. Enggak mungkin, kan, semua cowok itu dipilih jadi kekasih atau pasangan hidup. Bisa-bisa bakal terjadi perang dunia ketiga.

Kalau ada yang bilang," Kok belum nikah juga. Betah lama-lama ngejomblo, ya?" jawabnya santai aja, ya.Enggak perlu ngegas. Bilang aja Allah lagi mempersiapkan insan terbaik buat kita. Lagian dengan ngejomblo kita enggak perlu repot-repot mikirin besok mau masak apa ya buat suami.  Atau cukup enggak sih uang segini untuk beli keperluan selama sebulan? Mungkin masih banyak lagi hal yang menyenangkan menjadi seorang jomblo. Kita masih bebas melalukan apapun seorang diri, termasuk menekuni hoby yang menyenangkan.

Nah, ini terkadang pertanyaan yang bikin bete, "Capek-capek jadi sarjana, kok, malah jadi ibu rumah tangga?" Memangnya seorang sarjana enggak boleh jadi ibu rumah tangga? Aturan dari mana, tuh. Bukannya semakin tinggi pendidikan seorang ibu, maka semakin bagus agar kelak dapat mendidik anak-anaknya. Bukankah ibu adalah madrasah pertama buat anak-anaknya.  So enggak ada salahnya seorang sarjana memilih mengabdi untuk rumah tangganya dari pada mengabdi untuk perusahaan.

Mungkin masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan unfaedah yang bila kita layani bisa kuping pekak, yang apabila dibahas satu-satu bakal memakan ruang dan waktu yang teramat panjang. Intinya, apapun kondisi kita saat ini, selalu ada hal yang patut disyukuri, apapun itu.

#Day(8)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Sabtu, 11 Mei 2019

Mengapa Perempuan yang Haid Dilarang Puasa?




Pada tulisan terdahulu, "Hindari 8 Hal yang Dapat Membatalkan Puasa" telah penulis paparkan bahwa hal yang dapat membatalkan puasa, salah satunya ialah haid. Haid menurut bahasa artinya "aliran", sedangkan menurut syariat adalah darah kotor yang keluar dari pangkal rahim perempuan pada masa baligh pada waktu sehat dan tanpa sebab. Dari kedua arti tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa haid ialah darah kotor yang mengalir pada rahim perempuan yang telah balig pada waktu sehat. Jadi yang bisa digaris bawahi di sini bahwa haid adalah darah kotor pada perempuan yang telah baligh. Perempuan yang belum mencapai masa baligh, tetapi mengeluarkan darah dari kemaluan atau rahim tidak bisa disebut darah haid.

Masa baligh perempuan ditandai dengan umur dan keluar darah pada kemaluan. Perempuan yang telah keluar darah dari kemaluan pada saat belum berumur 9 tahun tidak termasuk darah haid. Seorang perempuan keluar darah haid minimal berumur 9 tahun dan tidak ada maksimal umur untuk keluarnya darah haid, meskipun ada yang mengatakan maksimal pada usia 50 tahun. Apabila perempuan telah mencapai usia 20 tahun namun belum keluar darah haid, maka dia termasuk baligh secara umur dan wajib untuk sholat dan berpuasa.
Darah haid bisa dikenali dari warna serta baunya. Hal ini sesuai dengan penuturan Abu Daud, Nasa'i. Hakim yang mana sebuah hadist menyebutkan, "Darah haid adalah darah hitam yanh sudah dikenali." Artinya salah satu ciri warna darah haid adalah berwarna hitam. Menurut mazhab Syafi'i, warna darah ada 5 macam yaitu merah, pirang, kuning dan keruh (antara kuning dan putih). Sedangkan menurut mazhab Hanafi, warnanya ada 6 macam yaitu hitam, merah, kuning, keruh, hijau dan abu-abu.

Nabi saw mensifati darah haid ada 5 macam yaitu tsakhin (kental), mutahadim (panas), yakhruj bi rifq (keluar pelan-pelan), berbau tidak sedap dan kaunuhu ladza'an (keadaannya yang hangus) yang ditandai warna hitam dan merah tua. Apabila seorang perempuan berusia minimal 9 tahun dan mengeluarkan darah dengan ciri-ciri di atas, maka sudah dipastikan itu adalah adalah darah haid.
Bagi perempuan yang sedang haid diharamkan untuk berpuasa, akan tetapi ia wajib mengqadhanya (membayar) apabila telah selesai masa haid (masa suci). Iman Nawawi berkata,"perihal 'puasa' tidak sah bagi orang haid', adalah sesuatu yang tidak diketahui sebabnya, karena bersuci tidak menjadi syarat berpuasa." Meskipun demikian menahan diri dari hal yang dapat membatalkan puasa adalah merupakan salah satu rukun puasa. Jadi apabila rukun puasa tidak dipenuhi maka sudah tentu puasa itu menkadi tidak sah.

Secara logis kita dapat berpikir, bahwa haid dapat melemahkan tubuh seseorang, dan berpuasa juga dapat melemahkan tubuh seseorang. Lantas bagaimana jadinya jika Allah mewajibkan seorang perempuan yang haid untuk berpuasa? Tentu hal tersebut akan terasa berat dilakukan dan inilah salah satu hikmah mengapa puasa tidak wajib bagi perempuan yang haid. Allah maha pemurah, Dia tidak akan memberatkan suatu kaum dalam urusan agamaNya.

Sumber Bacaan :
Nurudin, Marbu. 2011. Fiqih Darah Perempuan. Intermedia : Solo.

#Day(7)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah

Jumat, 10 Mei 2019

Fabel Ramadhan "Tupai yang Bakhil"






Alkisah, hiduplah seekor Tupai dan Kelinci yang bersahabat. Mereka telah lama tinggal di dalam hutan belantara yang jauh dari kawanan binatang-binatang lainnya. Setiap hari mereka pergi menelusuri hutan belantara untuk mencari makan. Sesampainya di dalam hutan, mereka menemukan dua anak pepaya yang masih kecil, seukuran lutut orang dewasa, yang tumbuh tak sengaja di dalam hutan.

"Hai Kelinci! Lihatlah apa yang aku temukan." teriak Tupai kepada Kelinci sahabatnya.

"Apa yang engkau temukan?" tanya Kelinci masih dengan jalannya yang pelan menuju keberadaan si Tupai.

"Lihat, teman. Ini anak pepaya. Bagaimana kalau kita bawa pulang dan kita tanam. Buahnya

bisa kita jadikan simpanan ketika dia berbuah nanti."
"Bagus sekali usulmu Tupai. Kita tidak perlu lagi mencari makanan ke dalam hutan, cukup buah pepaya ini saja."

"Ya, betul sekali perkataanmu wahai Kelinci."

Tupai dan Kelinci kemudian menggali tanah yang menutupi akar pohon anak pepaya. Bersama-sama mereka mencoba mencabut anak pohon pepaya dari tanah hingga tubuh mereka terpental dan membentur tanah. Walaupun demikian, mereka tidak berputus asa. Mereka terus menggali dan mencabut anak pohon pepaya secara bergantian, sampai akhirnya kedua anak pohon pepaya tersebut roboh dan terlepas dari tanah."Akhirnya perjuangan kita tidak sia-sia." kata Tupai menyeka dahinya dengan tangan yang berlumur tanah.

"Iya, akhirnya kita bisa mendapatkan anak pohon pepaya itu. Ayo kita pulang. Sebentar lagi matahari akan tenggelam." usul kelinci.

Mereka pun akhirnya pulang ke rumah dengan membawa dua anak pohon pepaya yang di pegang oleh si Tupai. Sesampainya di rumah, mereka langsung menanam anak pohon pepaya tersebut.

"Ini anak pohon pepayamu." kata Tupai menunjuk anak pohon pepaya yang di arah kiri.

"Yang ini adalah punyaku." Tupai kembali menunjuk pada anak pohon pepaya yang di arah kanan, yang baru saja ia tanam.

"Baiklah. Terima kasih kau telah membantuku menanam anak pepayaini. Semoga nanti menghasilkan buah yang banyak." harap Kelinci.

Setiap hari Tupai dan Kelinci merawat anak pohon pepaya mereka dengan telaten. Setelah merawatnya, mereka akan pergi ke dalam hutan untuk mencari makanan, selama anak pohon pepaya tersebut belum berbuah. Dalam beberapa kurun waktu, pohon pepaya mereka mulai berbuah. Pohon pepaya kepunyaan Tupai mulai menguning. Buahnya tampak besar dan segar serta banyak. Berbeda dengan kepunyaan Kelinci, buahnya sedikit dan masih berwarna hijau. Setiap hari Tupai memetik buah miliknya dan memakannya seorang diri. Dia tidak ingin berbagi kepada sahabatnya. Sampai suatu hari buah pepaya milik Kelinci masak dan menguning sebagian.

"Tupai, dapatkah kamu membantuku mengambilkan buah pepaya itu." pinta Kelinci. Sebenarnya Kelinci tidak pemalas, hanya saja tubuhnya yang kecil serta kakinya yang juga kecil, membuat Kelinci tidak mampu memanjat pohon pepaya tersebut. Berkali-kali ia mencoba menaikinya tetapi langsung meluncur dan terjatuh ke tanah. Akhirnya Kelinci pun meminta pertolongan Tupai.

"Baiklah, aku akan menolong mengambilkan pepaya itu. Tetapi ada syaratnya, kau harus memberiku beberapa buah pepaya itu sebagai upah." kata Tupai, padahal buah miliknya masih tersisa lebih banyak dari pada milik Kelinci yang baru masak.

"Baiklah." kata Kelinci menyetujui.

Tupai pun dengan sigap menaiki pohon pepaya tersebut. Dalam waktu singkat dia telah berada di atas pohon dan memetik buah-buah yang telah menguning. Sedangkan buah yang masih hijau, ia tinggalkan tetap di atas sana.

"Ini punyamu." Tupai menyerahkan seluruh buah pepaya kepada Kelinci, lalu mengambil jatah bagiannya."

"Terima kasih wahai Tupai." kata Kelinci.

Beberapa hari kemudian Tupai menemani Kelinci pergi ke tengah hutan. Mereka mencari persediaan makanan Kelinci yang telah habis. Sedangkan persediaan makanan Tupai masih sangat banyak. Buah pepaya milik Tupai semakin hari semakin lebat. Akan tetapi Tupai tidak mau berbagi dengan Kelinci, alhasil Tupai menemani Kelinci ke tengah hutan. Alangkah terkejutnya Tupai saat kembali pulang, buah pepaya miliknya tidak tersisa satu pun di atas pohon. Semuanya lenyap, tidak ada yang tersisa. Buah pepayanya baru saja dicuri oleh Tupai yang lain. Si Tupai pun menangis. Ia menyesal karena telah meninggalkan buah pepayanya sendirian tanpa dijaga. Seandainya dia bersedia memberikan sedikit buah pepaya kepada Kelinci Dia tidak perlu pergi ke tengah hutan dan mungkin buah pepayanya masih utuh di atas sana.


#Day(6)
#OneDayOnePost30HRDC
#WritingChallenge30HRDC
#30HariRamadhanDalamCerita
#bianglalahijrah