Pendahuluan
Eceng gondok atau enceng gondok (Eichhornia crassipes)
adalah salah satu jenis tumbuhan
air mengapung. Enceng gondok pertama kali
ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl
Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang melakukan
ekspedisi di Sungai
Amazon, Brasil. Awalnya didatangkan ke
Indonesia pada tahun 1894 dari Brazil untuk koleksi Kebun Raya Bogor. Ternyata
dengan cepat menyebar ke beberapa perairan di Pulau Jawa. Enceng gondok
merupakan tanaman yang tingginya sekitar 0,4-0,8 meter. Tidak mempunyai batang.
Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan Pangkalnya meruncing, pangkal
tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau.
Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung.
Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan
berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.
Orang lebih
banyak mengenal tanaman ini adalah tumbuhan pengganggu (gulma) di perairan
karena pertumbuhannya yang sangat cepat sehingga dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan.
Enceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.
Karena kemampuan inilah yang membuat enceng gondok banyak digunakan untuk
mengolah air buangan, sebab aktivitas enceng gondok mampu mengolah air buangan
domestic dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Enceng gondok dapat menurunkan
kadar BOD, partikel suspensi secara biokimiawi (berlangsung agak lambat) dan
mampu menyerap logam-logam berat seperti Cr, Pb, Hg, Cd, Cu, Fe, Mn, Zn dengan
baik, kemampuan menyerap logam persatuan berat kering enceng gondok lebih
tinggi pada umur muda dari pada umur tua.
Enceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai briket, pupuk,
kompos, pupuk cair, pakan ternak dan kerajinan tangan. Enceng gondok dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kertas, dan apabila diproses lebih lanjut
bisa dibuat etanol dengan cara hidrolisis dan fermentasi, yang dapat dijadikan
bahan bakar alternatif untuk mengantisifasi terjadinya krisis bahan bakar
minyak bumi (BBM) pada masa yang akan datang.
Taksonomi, Morfologi dan Syarat Tumbuh Enceng
Gondok
Taksonomi
Dalam
dunia tumbuhan, sistematika enceng gondok tersusun sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub Division : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Bromeliales
Suku : Potedericeae
Genus : Eichhornia
Spesies : Eichhornia Crassipes Solms
Gambar 1. Enceng Gondok.
Morfologi
Enceng gondok hidup
mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 4 - 8
cm. Tidak mempunyai batang serta daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan
pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya
licin dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.Tumbuhan air seperti enceng
gondok memiliki struktur batang dan daun yang khas untuk hidup di air. Pada
umumnya batang tanaman air berongga. Rongga itulah yang membuat tanaman
tersebut dapat terapung di permukaan air. Rongga udara yang
terdapat dalam akar, batang, dan daun selain sebagai alat penampungan juga
berfungsi sebagai tempat penyimpanan O2 dari proses fotosintesis.
Oksigen hasil dari fotosintesis ini digunakan untuk respirasi tumbuhan di malam
hari dengan menghasilkan CO2 yang akan terlepas kedalam air.
Daun enceng
gondok tergolong dalam makrofita yang terletak di atas permukaan air, yang di
dalamnya terdapat lapisan rongga udara dan berfungsi sebagai alat pengapung
tanaman. Zat hijau daun (klorofil) enceng gondok terdapat dalam sel epidemis.
Di permukaan atas daun dipenuhi oleh mulut daun (stomata) dan bulu daun. Stomata
pada enceng gondok banyak terdapat di epidermis atas. Berdasarkan teori,
stomata yang sel-sel penutupnya terletak pada permukaan daun disebut stomata phaneropore.
Stomata seperti ini terdapat pada tumbuh-tumbuhan hydrophyt. Stomata
yang letaknya di permukaan daun ini dapat menimbulkan banyaknya pengeluaran air
secara mudah dan biasanya dapat pula dikemukakan bahwa epidermisnya tidak
mempunyai lapisan kutikula. Merupakan cara beradapatasi bagi kelompok tumbuhan
air seperti Enceng Gondok. Tumbuhan tersebut terus menerus mendapatkan air
sehingga perlu diimbangi dengan penguapan yang tinggi. Stomatanya yang di atas
membantu mengurangi kandungan air tersebut, karena jika tidak, tumbuhan bisa
busuk. Itulah alasan mengapa stomata yang terdapat pada permukaan daun enceng
gondok jumlahnya lebih banyak dari pada yang terdapat di bagian bawah daun.
Secara detail,
daun enceng gondok dapat dideskripsikan sebagai berikut :
§
Daunnya lebih tebal dari daun teratai.
§
Luas daun lebih kecil dari daun teratai
dengan diameter 4 cm.
§
Memiliki stomata pada permukaan atas daun
dan 12 stomata pada permukaan bawah daun.
§
Letak stomata menyebar tapi rapi.
§
Tangkainya menggembung dan berongga.
§ Daun
dan tangkainya berwarna hijau.
Tangkai enceng
gondok berbentuk bulat menggelembung yang di dalamnya penuh dengan udara yang
berperan untuk mengapaungkan tanaman di permukaan air. Lapisan terluar petiole
adalah lapisan epidermis, kemudian dibagian bawahnya terdapat jaringan tipis
sklerenkim dengan bentuk sel yang tebal disebut lapisan parenkim, kemudian
didalam jaringan ini terdapat jaringan pengangkut (xylem dan floem).
Rongga-rongga udara dibatasi oleh dinding penyekat berupa selaput tipis
berwarna putih.
Enceng gondok
berbunga bertangkai dengan warna mahkota lembayung muda. Berbunga majemuk
dengan jumlah 6 - 35 berbentuk karangan bunga bulir dengan putik tunggal. Enceng
gondok juga memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut, enceng gondok
merupakan tumbuhan perennial yang hidup dalam perairan terbuka, yang mengapung
bila air dalam dan berakar didasar bila air dangkal. Perkembangbiakan enceng
gondok terjadi secara vegetatif maupun secara generatif, perkembangan secara
vegetatif terjadi bila tunas baru tumbuh dari ketiak daun, lalu membesar dan akhirnya
menjadi tumbuhan baru. Setiap 10 tanaman enceng gondok mampu berkembangbiak
menjadi 600.000 tanaman baru dalam waktu 8 bulan, hal inilah membuat enceng
gondok banyak dimanfaatkan guna untuk pengolahan air limbah. Enceng gondok
dapat mencapai ketinggian antara 40 - 80 cm dengan daun yang licin dan
panjangnya 7 - 25 cm.
a.
Syarat Tumbuh
Faktor
lingkungan yang menjadi syarat untuk pertumbuhan enceng gondok adalah sebagai
berikut:
1.
Cahaya matahari, PH dan Suhu
Pertumbuhan
enceng gondok sangat memerlukan cahaya matahari yang cukup, dengan suhu optimum
antara 25°C - 30°C, hal ini dapat dipenuhi dengan baik di daerah beriklim
tropis. Kecepatan pertumbuhan relatif tanaman ini
lima kali lebih
tinggi pada musim panas
bila dibandingkan musim dingin. Di samping itu untuk
pertumbuhan yang lebih baik, enceng gondok lebih cocok terhadap pH 7,0 - 7,5,
jika pH lebih atau kurang maka pertumbuhan akan terlambat dikarenakan akar menjadi keras, agak rusak dan tidak
ditemukannya akar – akar lateral.
2.
Ketersediaan Nutrien Derajat keasaman
(pH) air
Pada umumnya jenis tanaman gulma air
tahan terhadap kandungan unsur hara yang tinggi. Sedangkan unsur N dan P sering
kali merupakan faktor pembatas. Kandungan N dan P kebanyakan terdapat dalam air
buangan domestik. Jika pada perairan kelebihan nutrien ini maka akan terjadi
proses eutrofikasi. Enceng gondok dapat hidup di lahan yang mempunyai derajat
keasaman (pH) air 3,5 - 10. Agar pertumbuhan enceng gondok menjadi baik, pH air
optimum berkisar antara 4,5 – 7.
Tumbuhan
enceng gondok segar
mengandung ± 90% air,
0,05% N, 0,06% P2O5, 0,5% K2O
dan mineral lainnya yang prosentasenya sangat sedikit. Akan tetapi dalam bahan kering yang hanya terdapat
10% dari berat total segar terkandung 75% bahan organik 1,5% N, 24% abu. Dalam
analisa abu, enceng gondok mengandung unsur hara K paling banyak, yakni sekitar
29% K2O di samping terdapat 12 % Cl2 dan 7% P2O5.
3.
Intensitas cahaya
Pada keadaan cahaya matahari 100%
tanaman ini tumbuh dan berkembang biak paling cepat dibandingkan dengan cahaya
matahari 75%, 50% atau 25%.
BOKASHI
Kompos dan Bokashi
Kompos
merupakan hasil fermentasi atau dekomposisi dari bahan-bahan organik seperti
tanaman, hewan, atau limbah organik lainnya. Kompos yang digunakan sebagai
pupuk disebut pupuk organik karena bahan penyusunnya terdiri dari bahan-bahan
organik. Kompos bisa juga diartikan sebagai hasil penguraian parsial/tidak lengkap
dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh
populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab,
dan aerobik atau anaerobik.
Jenis tanaman yang sering
digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di
antaranya kotoran ternak, urine, pakan
ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Sedangkan
tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di
antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan azola. Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di
sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang,
ditandai dengan menurunnya temperatur kompos di bawah 40°C
Pengomposan merupakan proses dimana
bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh
mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat
kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat
terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang
seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator
pengomposan.
Kompos mempunyai sifat sebagai berikut : 1) memperbaiki
struktur tanah, 2) memperbesar daya ikat tanah berpasir, 3) meningkatkan daya
ikat air pada tanah, 4) memperbaiki drainase dan tata udara dalam tanah, 5)
mempertinggi daya ikat tanah terhadap zat hara, 6) membantu pelapukan bahan
mineral, 7) memberi ketersediaan bahan makanan bagi mikroba, 8) menurunkan aktivitas
mikroorganisme yang merugikan.
Terdapat beberapa macam mikroorganisme yang dapat digunakan
untuk membantu dan mempercepat pengomposan organik agar menjadi pupuk kompos.
Mikroorganisme tersebut antara lain Streptomyces sp., Acetybacter sp.,
Actynomycetes sp. Bahan aktivator untuk mempercepat pembuatan kompos antara
lain produk Dectro, OrgaDec, serta EM-4 yang diproduksi.
Bokashi adalah pupuk
kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik
dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisms 4). Keunggulan penggunaan
teknologi EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang
relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional. Ada banyak merk EM yang
beredar dipasaran baik buatan lokal maupun formula import, misalnya Stardec, Orgadec dan EM4. Fungsinya sama karena mengandung Azotobacter sp, Lactobacillus sp, ragi, bakteri
fotosintetik dan jamur pengurai selulosa. Dengan kata lain bokashi adalah kompos
yang dihasilkan melalui proses fermentasi dengan pemberian EM4. Kata “Bokashi”
diambil dari bahasa Jepang yang artinya bahan organik yang terfermentasi.
Larutan Effective Microorganism 4 (EM4) ditemukan
pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus Jepang dengan
kandungan mikroorganisme sekitar 80 genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang
dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik. Dalam proses
fermentasi bahan organik, mikroorganisme akan bekerja dengan baik apabila
kondisinya sesuai, yaitu apabila dalam kondisi anaerob, pH rendah (3-4), kadar
gula tinggi, kadar air 30-40%, dan suhu sekitar 40-50oC.
EM4
dalam Pembuatan Bokashi
Pemanfaatan
EM4 (Effective Microorganisms 4) dalam pembuatan kompos telah banyak dilakukakan
berdasarkan pada tingkat proses fermentasi yang lebih cepat dan mempercepat
pengomposan sampah organik atau kotoran hewan, membersihkan air limbah, serta
meningkatkan kualitas air pada tambak udang dan ikan. EM-4 merupakan kultur
campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman.
Sebagian besar mengandung mikroorganisme Lactobacillus sp. bakteri
penghasil asam laktat, serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik Streptomyces
sp. dan ragi. EM-4 mampu meningkatkan dekomposisi limbah dan sampah
organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman serta menekan aktivitas
serangga hama dan mikroorganisme patogen.
EM-4
biasanya diaplikasi sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman
dan populasi mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat
meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman
secara berkelanjutan.
Proses
pembuatan pupuk organik secara biasanya membutuhkan
waktu 8 - 12 minggu, sedang apabila menggunakan sistem baru (penambahan
inokulan), yakni
menggunakan EM-4 hanya memerlukan waktu 4 sampai 8 minggu dan hasilnya
lebih baik.
Terdapat beberapa
keuntungan dalam aplikasi EM-4, yakni :
§ Menyiram tanaman (EM dicampur dengan air)
§ Dipergunakan pada hewan atau ikan
§ Menekan bau tak sedap toilet atau kandang
§ Meragikan kompos
§ EM5 à penangkal
hama serangga
Pembuatan Bokashi Enceng Gondok
a.
Persiapan
Alat dan Bahan
Sebelum
membuat bokashi enceng gondok perlu dilakukan persiapan terlebih dahulu.
Persiapan tersebut meliputi persiapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam
pembuatan bokashi, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.
Alat
-
Talenan
-
Parang/pisau
pencincang
-
Ember
-
Plastik
-
Pengkap
Plastik
-
Karung
Beras
2.
Bahan
-
Enceng
gondok
-
EM4
-
Kertas
Label
-
Pupuk
Kandang
-
Gula
Pasir
b.
Metode
Kerja
Berikut adalah cara pembuatan
bokashi enceng gondok.
- Enceng gondok di potong kecil-kecil menggunakan parang.
- Potongan tersebut dicampur dengan pupuk kandang dan diaduk sampai merata
- EM4 dengan gula pasir dilarutkan ke dalam air bersih dengan ukuran 1 liter air dengan 2 tutup botol EM4 dan 1 sendok makan gula.
- Untuk keperluan 1 ton enceng gondok menggunakan 50 liter air dengan 1 liter EM4 dan 250 mg gula
- Kemudian potongan enceng gondok tersebut disiram dengan larutan EM4 dan gula dan diaduk sampai merata
- Setelah selesai, dimasukkan ke dalam karung dan peram ± 3 minggu dan disimpan di tempat yang bersih dan berudara sejuk
- Setelah ± 3 minggu bokasi enceng gondok sudah matang dan siap diaplikasikan pada tanaman.
- Apabila bokashi ingin dijual dan dipasarkan, maka perlu dilakukan pengemasan dan pemberian label yang menarik. Kemudian disimpan di tempat yang kering dan sejuk.